'/>
Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Pantai rusak, pendapatan Nelayan menurun

“Sekarang ini ikan sudah sarjana semua barangkali, sudah tidak mau makan umpan, kalau 10 tahun lalu belum panas sekali pantat duduk memancing ikan,
sudah banyak didapat baru tidak jauh-jauh kita memancing hanya dipinggir-pinggir bakau saja,
kalau sekarang sudah sakit pantat, sudah jauh dan malas lagi ikannya makan” Ujar Nuha nelayan tradisional di lampong.

Memang belakangan ini Nelayan tradisional yang berada dikawasan pesisir Banawa semakin mengkhawatirkan keadaan ekonominya, seperti yang diungkapakan Nuha (53 Thn) dan leni (45 Thn) ke penulis beberapa waktu lalu ketika ditemui di kediamannya. Hal serupa juga di alami hampir semua nelayan tradisional dan semi modern (Nelayan pengguna alat tangkap biasa) yang berada dikawasan Pesisir pantai Banawa. Penghasilan mereka menurun drastis Kondisi ini dipercaya sebagian orang termasuk nelayan adalah dampak dari kerusakan ekosistem pesisir banawa, kejadian seperti hilangnya hutan mangrove yang dirusak, reklamasi pantai, sempitnya padang lamun dan penghancuran terumbu karang. “ sudah setengah mati sekarang bapukat, Laut makin sempit gara- gara laut hampir semua sudah ditimbun dibikin gudanglah, dibikin jalan, ” Ujar pak lenni sedih Hasil investigasi Yayasan bonebula donggala pada tahun 2010 Kemarin bahwa sebagian enam puluh lima persen masyarakat pesisir banawa, hidup dari menangkap ikan secara tradisional dan Semi moderen. Mereka hanya menggunakan perahu tradisional dan ada juga yang menggunakan mesin berkapasitas kecil dengan kekuatan hanya lima PK, mesin katingting, yang kehidupan selama ini hanya bergantung hidup dari hasil melaut, rata –rata pendapatan nelayan pancing Tradisisional dan semi moderen di pesisir banawa Kebupaten Donggala adalah, untuk Pemancing Tradisional sebesar enam puluh ribu rupiah, pemancing semi moderen sebesar seratus dua puluh ribu rupiah, dan nelayan yang menggunakan pukat sebesar seratus lima puluh ribu rupiah untuk setiap harinya, dan ini masih mencukupi kebutuhan rumah tangga nelayan. Gambaran di atas ternyata tidak berlangsung lama, karena dalam lima Tahun terakhir ini terjadi kemorosotan kualitas kehidupan nelayan tradisional yang diakibatkat pembangunan di sepanjang pesisir banawa yakni dari daerah kelurahan Loli sampai Labuan Bajo, baik dari Pihak swasta maupun dari pemerintah daerah itu sendiri, yang berdampak pada reklamasi pantai dimana menghilangkan hutan mangrove, taman lamun dan terumbu karang, bahkan kita tahu bersama fungsi-fungsi dari ketiganya amat besar manfaatnya bagi nelayan yang berupa tempat hidup ikan dan beragam biota laut lainnya, mulai dari tempat mencari makan hingga berkembang biak, oleh karena itu rusaknya terumbu karang, hilangnya mangrove, dan padang lamun, mengakibatkan populasi ikan berkurang, Dari aktifitas yang merusak ini membuat nelayan tradisonal semakin merana dan memperihatinkan, hasil melaut mereka menurun drastis bahkan nyaris tidak mendapat apapun dari kegiatan melaut saat ini. “Kondisi ini tentu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Pemkab Donggala harus segera menghentikan kegiatan reklamasi yang merusak lingkungan tersebut. dan melakukan penanaman mangrove diareal tersebut sebagai wujud Rehabilitasi ekosistem mangrove yang sudah rusak”, ungkap Abl. Nasir koordinator Divisi advokasi Yayasan Bonebula Donggala, “hal ini juga merupakan wujud komitmen pemkab Donggala terhadap Implementasi Perda Nomor 10 Tahun 2006” ucap nasir mengakhiri pembicaraan. (Iwan)

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentar Anda